Perjalanan Paling Mengharukan: Nabi Muhammad ﷺ dan Zaid bin Haritsah di Thaif
LPenulis : Luthfi Khairi Damanik·24 Oktober 2026

Perjalanan Paling Mengharukan: Nabi Muhammad ﷺ dan Zaid bin Haritsah di Thaif
Tahun Kesedihan (عَامُ الْحُزْنِ) baru saja menyelimuti kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Dalam waktu yang berdekatan, beliau kehilangan dua benteng perlindungan utamanya di kota Makkah : Khadijah RA, istri tercinta yang selalu menenangkan hati beliau, dan Abu Thalib paman penyayang yang gigih membentenginya dari ancaman kaum Quraisy.
Melihat tekanan kaum kafir Makkah yang kian ganas dan dakwah yang membentur tembok tebal, Rasulullah ﷺ tidak menyerah. Beliau menatap ke arah timur Makkah, menuju sebuah kota pegunungan yang subur bernama Thaif.
Dengan harapan membawa cahaya Islam ke tempat baru, Rasulullah ﷺ melangkah menempuh jarak sekitar 80–90 kilometer berjalan kaki, didampingi oleh seorang sahabat yang setia yaitu Zaid bin Haritsah RA.
Menembus Medan Terjal Tanpa Pengawal Mewah
Perjalanan ke Thaif bukanlah perjalanan yang mudah. Jalur Makkah–Thaif melintasi perbukitan batu yang terjal dan hawa dingin pegunungan. Rasulullah ﷺ dan Zaid memilih berjalan kaki agar tidak memancing kecurigaan kaum Quraisy Makkah.
Di sepanjang jalan, Zaid bin Haritsah bukan sekadar teman perjalanan, melainkan benteng bernyawa. Sebagai sosok yang pernah dijadikan sebagai anak angkat oleh Rasulullah ﷺ, Zaid memendam cinta dan loyalitas mendalam. Ia terus menjaga setiap langkah Sang Nabi dari ancaman bahaya di jalur sepi tersebut.
Penolakan Pahit dari Pemimpin Tsaqif
Setibanya di Thaif, Rasulullah ﷺ mendatangi tiga orang bersaudara yang merupakan pemimpin Suku Tsaqif (penguasa Thaif) : Abdu Yalil bin Amr bin Umair, Mas’ud bin Amr bin Umair, dan Habib bin Amr bin Umair. Beliau mengajak mereka menyembah Allah SWT dan meminta perlindungan bagi dakwah Islam.
Namun, harapan itu disambut dengan keangkuhan dan hinaan yang amat sangat.
Salah seorang dari mereka berseloroh, "Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu untuk diutus menjadi Nabi?"
Yang lain berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pernah berbicara denganmu! Jika engkau benar seorang Nabi, engkau terlalu berbahaya bagiku. Namun jika engkau berdusta, engkau tidak layak aku ajak bicara."
Tidak hanya menolak secara lisan, para pemimpin Tsaqif memerintahkan orang-orang bodoh, budak, dan anak-anak kecil untuk mengusir Nabi Muhammad ﷺ dari kota mereka.
Hujan Batu dan Pengorbanan Zaid bin Haritsah
Saat Rasulullah ﷺ dan Zaid hendak meninggalkan Thaif, mereka disambut barisan penduduk Thaif di sepanjang jalan. Penduduk kota itu bersorak, mencaci maki, dan melempari beliau dengan batu.
Di sinilah bukti cinta luar biasa Zaid bin Haritsah terukir dalam sejarah, Zaid pasang badan sepenuhnya. Ia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup untuk melindungi kepala dan dada Nabi Muhammad ﷺ dari lemparan batu. Zaid terus terkena sabetan dan lemparan tajam hingga kepalanya terluka parah dan darah mengalir membasahi tubuhnya.
Meski Zaid telah berjuang sekuat tenaga, lemparan batu yang tak henti-hentinya membuat tumit dan kaki Rasulullah ﷺ terluka hingga sandal beliau tergenang darah. Beliau berjalan bersimbah darah sampai berhasil keluar dari kejaran penduduk Thaif dan berteduh di sebuah kebun kurma milik Utbah dan Shaibah bin Rabi'ah.
Doa Terindah dalam Sejarah Manusia
Di bawah naungan pohon kurma, dalam keadaan lelah, terluka, dan diuji secara mental, Rasulullah ﷺ tidak menyumpahi orang-orang yang menyakitinya. Beliau bersujud dan memanjatkan doa yang amat menyentuh hati:
“Ya Allah kepadamu kuadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya kesanggupanku, kerendahan diriku berhadapan dengan manusia, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Engkau adalah Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkau juga Pelindungku, kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semuanya itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau Ridha (kepadaku), dan tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (HR. At-Thabrani)
Melihat penderitaan itu, Malaikat Jibril AS datang bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat Gunung menawarkan diri: "Wahai Muhammad, jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung batu (الأخشبيْن) ini di atas mereka!"
Jawaban Rasulullah ﷺ menunjukkan keagungan akhlaknya yang tiada tanding:
"Tidak, justru aku berharap kelak dari sulbi (keturunan) mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun."
Buah Manis di Tengah Duka : Kisah Addas
Di kebun itu pulalah, Allah SWT mengirimkan penghiburan kecil. Utbah dan Shaibah yang merasa kasihan, mereka memerintahkan budak Kristen mereka bernama Addas untuk memberikan sepinggan anggur kepada Nabi.
Sebelum memakan anggur tersebut, Rasulullah ﷺ membaca, "Bismillah" (Dengan menyebut nama Allah).
Addas terkejut dan berkata, "Kalimat ini tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini."
Rasulullah ﷺ bertanya dari mana asal Addas dan apa agamanya. Addas menjawab bahwa ia berasal dari Niniwe dan beragama Nasrani. Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, "Dari negeri hamba yang saleh, Yunus bin Matta."
Addas terperanjat, "Bagaimana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi."
Seketika itu juga, Adas segera memeluk Nabi Muhammad ﷺ. serta menciumi kepala, tangan dan kaki beliau. Ketika Adas kembali kepada tuannya, mereka memarahinya karena perlakuannya tersebut. Namun, Adas membantah dengan mengatakan bahwa Muhammad ﷺ telah memberitahukan sesuatu kepadanya yang tidak diketahui oleh manusia kecuali seorang nabi. Adas kemudian kembali menemui Muhammad ﷺ, yang kemudian membacakan Al Qur’an yang berisi kisah Nabi Yunus AS. kepadanya. Setelah mendengarnya, Addas kemudian masuk Islam.
Hikmah Memukau dari Peristiwa Thaif
Keteguhan dan Kesabaran Tanpa Batas : Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kegagalan di satu tempat bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan ujian untuk menyucikan niat.
Pengorbanan Sahabat Sejati:
Zaid bin Haritsah mencontohkan loyalitas tertinggi—siap menjadi benteng hidup demi melindungi orang yang dicintai.
Cinta Menyikapi Kebencian:
Rasulullah ﷺ menolak membalas kejahatan dengan kehancuran. Hasilnya? Di kemudian hari, kota Thaif justru menjadi salah satu pusat kekuatan Islam yang melahirkan tokoh-tokoh hebat.
Pertolongan Allah Datang Lewat Jalan Tak Terduga:
Peristiwa Thaif menjadi mukaddimah bagi perjalanan teragung Rasulullah ﷺ berikutnya, yaitu Isra' Mi'raj, di mana beliau dihibur langsung oleh Allah SWT di langit tertinggi.
Peristiwa di Thaif menjadi pengingat bagi kita semua:
sesulit apa pun ujian dan penolakan yang dihadapi dalam kebaikan, jangan pernah membalasnya dengan kebencian. Sebab di balik setiap ketabahan, Allah selalu menyiapkan kemuliaan yang lebih besar.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Tahun Kesedihan (عَامُ الْحُزْنِ) baru saja menyelimuti kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Dalam waktu yang berdekatan, beliau kehilangan dua benteng perlindungan utamanya di kota Makkah : Khadijah RA, istri tercinta yang selalu menenangkan hati beliau, dan Abu Thalib paman penyayang yang gigih membentenginya dari ancaman kaum Quraisy.
Melihat tekanan kaum kafir Makkah yang kian ganas dan dakwah yang membentur tembok tebal, Rasulullah ﷺ tidak menyerah. Beliau menatap ke arah timur Makkah, menuju sebuah kota pegunungan yang subur bernama Thaif.
Dengan harapan membawa cahaya Islam ke tempat baru, Rasulullah ﷺ melangkah menempuh jarak sekitar 80–90 kilometer berjalan kaki, didampingi oleh seorang sahabat yang setia yaitu Zaid bin Haritsah RA.
Menembus Medan Terjal Tanpa Pengawal Mewah
Perjalanan ke Thaif bukanlah perjalanan yang mudah. Jalur Makkah–Thaif melintasi perbukitan batu yang terjal dan hawa dingin pegunungan. Rasulullah ﷺ dan Zaid memilih berjalan kaki agar tidak memancing kecurigaan kaum Quraisy Makkah.
Di sepanjang jalan, Zaid bin Haritsah bukan sekadar teman perjalanan, melainkan benteng bernyawa. Sebagai sosok yang pernah dijadikan sebagai anak angkat oleh Rasulullah ﷺ, Zaid memendam cinta dan loyalitas mendalam. Ia terus menjaga setiap langkah Sang Nabi dari ancaman bahaya di jalur sepi tersebut.
Penolakan Pahit dari Pemimpin Tsaqif
Setibanya di Thaif, Rasulullah ﷺ mendatangi tiga orang bersaudara yang merupakan pemimpin Suku Tsaqif (penguasa Thaif) : Abdu Yalil bin Amr bin Umair, Mas’ud bin Amr bin Umair, dan Habib bin Amr bin Umair. Beliau mengajak mereka menyembah Allah SWT dan meminta perlindungan bagi dakwah Islam.
Namun, harapan itu disambut dengan keangkuhan dan hinaan yang amat sangat.
Salah seorang dari mereka berseloroh, "Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu untuk diutus menjadi Nabi?"
Yang lain berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pernah berbicara denganmu! Jika engkau benar seorang Nabi, engkau terlalu berbahaya bagiku. Namun jika engkau berdusta, engkau tidak layak aku ajak bicara."
Tidak hanya menolak secara lisan, para pemimpin Tsaqif memerintahkan orang-orang bodoh, budak, dan anak-anak kecil untuk mengusir Nabi Muhammad ﷺ dari kota mereka.
Hujan Batu dan Pengorbanan Zaid bin Haritsah
Saat Rasulullah ﷺ dan Zaid hendak meninggalkan Thaif, mereka disambut barisan penduduk Thaif di sepanjang jalan. Penduduk kota itu bersorak, mencaci maki, dan melempari beliau dengan batu.
Di sinilah bukti cinta luar biasa Zaid bin Haritsah terukir dalam sejarah, Zaid pasang badan sepenuhnya. Ia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup untuk melindungi kepala dan dada Nabi Muhammad ﷺ dari lemparan batu. Zaid terus terkena sabetan dan lemparan tajam hingga kepalanya terluka parah dan darah mengalir membasahi tubuhnya.
Meski Zaid telah berjuang sekuat tenaga, lemparan batu yang tak henti-hentinya membuat tumit dan kaki Rasulullah ﷺ terluka hingga sandal beliau tergenang darah. Beliau berjalan bersimbah darah sampai berhasil keluar dari kejaran penduduk Thaif dan berteduh di sebuah kebun kurma milik Utbah dan Shaibah bin Rabi'ah.
Doa Terindah dalam Sejarah Manusia
Di bawah naungan pohon kurma, dalam keadaan lelah, terluka, dan diuji secara mental, Rasulullah ﷺ tidak menyumpahi orang-orang yang menyakitinya. Beliau bersujud dan memanjatkan doa yang amat menyentuh hati:
“Ya Allah kepadamu kuadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya kesanggupanku, kerendahan diriku berhadapan dengan manusia, wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Engkau adalah Pelindung orang-orang yang lemah dan Engkau juga Pelindungku, kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku? Ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, semuanya itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau tumpahkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau Ridha (kepadaku), dan tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.” (HR. At-Thabrani)
Melihat penderitaan itu, Malaikat Jibril AS datang bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat Gunung menawarkan diri: "Wahai Muhammad, jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung batu (الأخشبيْن) ini di atas mereka!"
Jawaban Rasulullah ﷺ menunjukkan keagungan akhlaknya yang tiada tanding:
"Tidak, justru aku berharap kelak dari sulbi (keturunan) mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun."
Buah Manis di Tengah Duka : Kisah Addas
Di kebun itu pulalah, Allah SWT mengirimkan penghiburan kecil. Utbah dan Shaibah yang merasa kasihan, mereka memerintahkan budak Kristen mereka bernama Addas untuk memberikan sepinggan anggur kepada Nabi.
Sebelum memakan anggur tersebut, Rasulullah ﷺ membaca, "Bismillah" (Dengan menyebut nama Allah).
Addas terkejut dan berkata, "Kalimat ini tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini."
Rasulullah ﷺ bertanya dari mana asal Addas dan apa agamanya. Addas menjawab bahwa ia berasal dari Niniwe dan beragama Nasrani. Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda, "Dari negeri hamba yang saleh, Yunus bin Matta."
Addas terperanjat, "Bagaimana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi."
Seketika itu juga, Adas segera memeluk Nabi Muhammad ﷺ. serta menciumi kepala, tangan dan kaki beliau. Ketika Adas kembali kepada tuannya, mereka memarahinya karena perlakuannya tersebut. Namun, Adas membantah dengan mengatakan bahwa Muhammad ﷺ telah memberitahukan sesuatu kepadanya yang tidak diketahui oleh manusia kecuali seorang nabi. Adas kemudian kembali menemui Muhammad ﷺ, yang kemudian membacakan Al Qur’an yang berisi kisah Nabi Yunus AS. kepadanya. Setelah mendengarnya, Addas kemudian masuk Islam.
Hikmah Memukau dari Peristiwa Thaif
Keteguhan dan Kesabaran Tanpa Batas : Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kegagalan di satu tempat bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan ujian untuk menyucikan niat.
Pengorbanan Sahabat Sejati:
Zaid bin Haritsah mencontohkan loyalitas tertinggi—siap menjadi benteng hidup demi melindungi orang yang dicintai.
Cinta Menyikapi Kebencian:
Rasulullah ﷺ menolak membalas kejahatan dengan kehancuran. Hasilnya? Di kemudian hari, kota Thaif justru menjadi salah satu pusat kekuatan Islam yang melahirkan tokoh-tokoh hebat.
Pertolongan Allah Datang Lewat Jalan Tak Terduga:
Peristiwa Thaif menjadi mukaddimah bagi perjalanan teragung Rasulullah ﷺ berikutnya, yaitu Isra' Mi'raj, di mana beliau dihibur langsung oleh Allah SWT di langit tertinggi.
Peristiwa di Thaif menjadi pengingat bagi kita semua:
sesulit apa pun ujian dan penolakan yang dihadapi dalam kebaikan, jangan pernah membalasnya dengan kebencian. Sebab di balik setiap ketabahan, Allah selalu menyiapkan kemuliaan yang lebih besar.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Punya pertanyaan soal umroh?
Konsultasi gratis dengan tim Syabab Umroh.


